Life Must Go On
"Iya li, yakin" sahutku. Suaraku terdengar lirih, pikiranku menerawang entah kemana.
Hujan
Aku benci dan senang kepada hujan. Benci karena tau semuanya berakhir saat hujan dan senang karena hujan menyembunyikan tangisanku dalam tetesannya. Aku benci dan senang kepada hujan; aku harus mengakui jika bukan karenanya, sampai detik ini aku takkan pernah mencintai diri sendiri. Namaku Disa dan mulai sore hari saat hujan itu kehidupanku akan berbeda.
1 minggu setelah kejadian hujan
Semua baik-baik saja.
Hidupku normal, kok. Hanya saja yang berbeda mungkin dimana aku menjalani kehidupan sendiri dan tidak perlu repot mengabari seseorang lagi. Aku masih bisa makan cireng rasa keju di bundaran sekolah, aku masih bisa menyalin catatan Fisika yang harus kuhias lucu-lucu agar nilaiku A+, dan aku juga masih kuat memakan pentol langganan kesukaanku dengan porsi double. Apa yang salah? Tidak ada. Aku baik baik saja.
2 minggu setelah kejadian hujan
Aku masih baik-baik saja.
Hari itu kuawali dengan membuka galeri foto yang sempat tak kubuka hampir dua minggu. Aku mencari-cari semua foto dan... hapus. Berhasil. Sudah 14 hari aku menjadi makhluk anti sosial, menyesal sempat meninggalkan mereka (re:teman-temanku) demi kepentinganku. Ya, tidak apa apa. Ini salahku; meninggalkan mereka yang dulu sudah jelas selalu ada. Tolong buat kamu yang membaca ini, jangan pernah meninggalkan sahabat-sahabat terbaikmu.
3 minggu setelah kejadian hujan
Aku masih baik baik saja, kan?
Sepi. Aku tersenyum tapi hampa, bingung, sebenarnya aku ini kenapa? Tertawa tapi semakin aku mencoba, semakin larut, semakin sesak. Sudah hampir sebulan dan aku masih disibukkan dengan kegiatan menghilangkan semua kenangan kasat mata. Bersih. Semuanya sudah berhasil aku hilangkan. Jangan takut, aku sudah yakin dengan keputusanku.
1 bulan setelah kejadian hujan
Bahagia.
Hari ini tepat sebulan yang lalu. Mereka menyadari walaupun aku sedetail mungkin menyembunyikan. Mereka datang, mengulurkan tangan, merangkul, memeluk tanpa peduli tentang apa yang sudah aku lakukan kepada mereka. Tangisku pecah, namun aku bahagia. Seperti mendapatkan kembali potongan-potongan kasih sayang yang dulu sempat kubuang sia sia. Tuhan, terimakasih telah mengirimkanku segerombolan makhluk ini. Tolong jangan biarkan aku kehilangan mereka kembali. Untukmu yang meninggalkanku, terimakasih. Karenamu aku bisa kembali bersama mereka; yang selalu ada dan tidak pernah pergi.
5 bulan setelah kejadian hujan
Sangat bahagia.
Hidupku sudah sangat berubah, dan aku bahagia atas perubahan ini. Aku akui, dulu aku terlalu naif. Untuk apa memikirkan sesuatu yang sudah pasti? Untuk apa bersedih terhadap sesuatu yang bahkan secara sadar memutuskan untuk pergi? Masih banyak alasan yang harusnya membuat aku bersyukur kala itu. Tidak apa apa, namanya proses kehidupan kan?
1 tahun setelah kejadian hujan
Terlalu bahagia dan akan seterusnya seperti ini.
Kadang aku menyesal, kenapa tidak sedari dulu aku seperti ini? Punya banyak teman, kegiatan positif, menjadi diri sendiri, mengembangkan bakat dan minat, ... ah sudahlah. Harusnya aku banyak bersyukur sudah disadarkan secepat ini. Aku sangat bersyukur ya tuhan, aku memiliki banyak cerita dan kenangan pahit maupun manis yang kelak akan kuceritakan kembali. Iya, aku janji akan menceritakannya kembali dan sepertinya sudah aku tepati janji itu.
Untukmu yang belum bisa melupakan dia
Kamu berharga, tolong cintai dirimu sendiri. Kamu berhak bahagia, sudahi bersedih, berhenti terpuruk dan mulai menjalani lembaran kehidupanmu yang baru. Dia yang mencintaimu tidak akan pernah membiarkanmu merasa sendiri. Tutup semua album kenangan, yakinkan diri bahwa sekeras apapun otakmu berpikir, perasaanmu menolak, sikapmu menahan; nyatanya dia tetap pergi meninggalkanmu. Seseorang dulu pernah berkata kepadaku "memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa kan?". Jangan paksa untuk melupakan, tapi ikhlaskan. Yakinlah bahwa sesuatu yang hilang akan selalu tergantikan dengan yang lebih baik. Toh, katanya kalau sudah cinta tidak mengenal siapa, kan? :)
Hujan
Aku benci dan senang kepada hujan. Benci karena tau semuanya berakhir saat hujan dan senang karena hujan menyembunyikan tangisanku dalam tetesannya. Aku benci dan senang kepada hujan; aku harus mengakui jika bukan karenanya, sampai detik ini aku takkan pernah mencintai diri sendiri. Namaku Disa dan mulai sore hari saat hujan itu kehidupanku akan berbeda.
1 minggu setelah kejadian hujan
Semua baik-baik saja.
Hidupku normal, kok. Hanya saja yang berbeda mungkin dimana aku menjalani kehidupan sendiri dan tidak perlu repot mengabari seseorang lagi. Aku masih bisa makan cireng rasa keju di bundaran sekolah, aku masih bisa menyalin catatan Fisika yang harus kuhias lucu-lucu agar nilaiku A+, dan aku juga masih kuat memakan pentol langganan kesukaanku dengan porsi double. Apa yang salah? Tidak ada. Aku baik baik saja.
2 minggu setelah kejadian hujan
Aku masih baik-baik saja.
Hari itu kuawali dengan membuka galeri foto yang sempat tak kubuka hampir dua minggu. Aku mencari-cari semua foto dan... hapus. Berhasil. Sudah 14 hari aku menjadi makhluk anti sosial, menyesal sempat meninggalkan mereka (re:teman-temanku) demi kepentinganku. Ya, tidak apa apa. Ini salahku; meninggalkan mereka yang dulu sudah jelas selalu ada. Tolong buat kamu yang membaca ini, jangan pernah meninggalkan sahabat-sahabat terbaikmu.
3 minggu setelah kejadian hujan
Aku masih baik baik saja, kan?
Sepi. Aku tersenyum tapi hampa, bingung, sebenarnya aku ini kenapa? Tertawa tapi semakin aku mencoba, semakin larut, semakin sesak. Sudah hampir sebulan dan aku masih disibukkan dengan kegiatan menghilangkan semua kenangan kasat mata. Bersih. Semuanya sudah berhasil aku hilangkan. Jangan takut, aku sudah yakin dengan keputusanku.
1 bulan setelah kejadian hujan
Bahagia.
Hari ini tepat sebulan yang lalu. Mereka menyadari walaupun aku sedetail mungkin menyembunyikan. Mereka datang, mengulurkan tangan, merangkul, memeluk tanpa peduli tentang apa yang sudah aku lakukan kepada mereka. Tangisku pecah, namun aku bahagia. Seperti mendapatkan kembali potongan-potongan kasih sayang yang dulu sempat kubuang sia sia. Tuhan, terimakasih telah mengirimkanku segerombolan makhluk ini. Tolong jangan biarkan aku kehilangan mereka kembali. Untukmu yang meninggalkanku, terimakasih. Karenamu aku bisa kembali bersama mereka; yang selalu ada dan tidak pernah pergi.
5 bulan setelah kejadian hujan
Sangat bahagia.
Hidupku sudah sangat berubah, dan aku bahagia atas perubahan ini. Aku akui, dulu aku terlalu naif. Untuk apa memikirkan sesuatu yang sudah pasti? Untuk apa bersedih terhadap sesuatu yang bahkan secara sadar memutuskan untuk pergi? Masih banyak alasan yang harusnya membuat aku bersyukur kala itu. Tidak apa apa, namanya proses kehidupan kan?
1 tahun setelah kejadian hujan
Terlalu bahagia dan akan seterusnya seperti ini.
Kadang aku menyesal, kenapa tidak sedari dulu aku seperti ini? Punya banyak teman, kegiatan positif, menjadi diri sendiri, mengembangkan bakat dan minat, ... ah sudahlah. Harusnya aku banyak bersyukur sudah disadarkan secepat ini. Aku sangat bersyukur ya tuhan, aku memiliki banyak cerita dan kenangan pahit maupun manis yang kelak akan kuceritakan kembali. Iya, aku janji akan menceritakannya kembali dan sepertinya sudah aku tepati janji itu.
Untukmu yang belum bisa melupakan dia
Kamu berharga, tolong cintai dirimu sendiri. Kamu berhak bahagia, sudahi bersedih, berhenti terpuruk dan mulai menjalani lembaran kehidupanmu yang baru. Dia yang mencintaimu tidak akan pernah membiarkanmu merasa sendiri. Tutup semua album kenangan, yakinkan diri bahwa sekeras apapun otakmu berpikir, perasaanmu menolak, sikapmu menahan; nyatanya dia tetap pergi meninggalkanmu. Seseorang dulu pernah berkata kepadaku "memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa kan?". Jangan paksa untuk melupakan, tapi ikhlaskan. Yakinlah bahwa sesuatu yang hilang akan selalu tergantikan dengan yang lebih baik. Toh, katanya kalau sudah cinta tidak mengenal siapa, kan? :)

Komentar
Posting Komentar